Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

SEJARAH KEMENTERIAN PERTANIAN

20/11/2025 09:11:00 Administrator 4054

Sejarah Kementerian Pertanian

 

Kekayaan sumber daya alam Indonesia dipengaruhi oleh kondisi alam yang beriklim tropis serta letak geografisnya di antara dua benua, yaitu Asia dan Australia, serta dua samudra, yaitu Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Kondisi tersebut mendukung perkembangan sektor pertanian sehingga menjadi salah satu sektor penting bagi perekonomian bangsa. Oleh karena itu, Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang menghasilkan beragam produk dari kegiatan pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan.

Sejarah kelembagaan pertanian di Indonesia dimulai pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Pada tanggal 1 Januari 1905, didirikan sebuah departemen yang menangani bidang pertanian berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 23 September 1904 Nomor 20, Staatsblad 982. Keputusan tersebut didasarkan pada Surat Keputusan Raja Belanda Nomor 28 tanggal 28 Juli 1904, Staatsblad Nomor 380. Direktur pertama Departemen Pertanian adalah Dr. Melchior Treub. Dalam perkembangannya, urusan pertanian ditangani oleh Departement van Landbouw pada tahun 1905, kemudian melalui perubahan organisasi yang mencakup bidang pertanian, industri, dan perdagangan pada tahun 1911, serta Departement van Ekonomische Zaken pada tahun 1934. Pada masa pendudukan Jepang, urusan pertanian ditangani oleh Gunseikanbu Sangyobu.

Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tanggal 19 Agustus 1945, sektor pertanian berada di bawah Kementerian Kemakmuran dalam kabinet pertama Republik Indonesia. Jabatan Menteri Kemakmuran pertama dipegang oleh Ir. R. P. Surachman Tjokroadisurjo. Situasi keamanan yang belum stabil akibat kedatangan kembali tentara Belanda menyebabkan Kementerian Kemakmuran mendirikan kantor cabang di Magelang yang dipimpin oleh R. M. Reksohadiprojo. Pada bulan Juli 1947, kantor tersebut dipindahkan ke Borobudur, kemudian beralih ke Yogyakarta. Dalam perkembangan kelembagaan selanjutnya, Departemen Pertanian berubah menjadi Kementerian Pertanian berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara.

Perjalanan kelembagaan pertanian Indonesia berkaitan dengan berbagai tokoh yang pernah menjalankan tugas pemerintahan. Salah satunya adalah Ir. Raden Mas Pandji Soerachman Tjokroadisoerjo, yang lahir pada tanggal 30 Agustus 1894 dan wafat pada tanggal 16 November 1952. Ia dikenal sebagai insinyur teknik kimia pribumi pertama. Selain menjabat sebagai Menteri Kemakmuran dalam Kabinet Presidensial, ia pernah menjadi Menteri Keuangan dalam Kabinet Sjahrir I serta Presiden Universitas Indonesia pertama setelah penyerahan kedaulatan Republik Indonesia.

Tokoh lainnya adalah Darmawan Mangunkusumo, seorang ekonom dan insinyur Indonesia yang lahir pada tanggal 25 Mei 1901 dan wafat pada tanggal 2 Agustus 1971. Ia menjabat sebagai Menteri Kemakmuran pada tahun 1945–1946 dalam Kabinet Sjahrir I dan II. Sebelum menjadi menteri, ia bekerja sebagai pejabat di bidang ekonomi pada masa pemerintahan kolonial Belanda dan pendudukan Jepang. Ia juga aktif dalam gerakan nasionalisme melalui Perhimpoenan Indonesia ketika menempuh pendidikan di Belanda. Sementara itu, Ir. Zainuddin Rasad merupakan ahli pertanian dan politikus Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertanian dan Persediaan Republik Indonesia.

Mayor Jenderal TNI (Tit.) (Purn.) dr. Adnan Kapau Gani, yang lebih dikenal sebagai A. K. Gani, lahir pada tanggal 16 September 1905 dan wafat pada tanggal 23 Desember 1968. Ia memiliki latar belakang sebagai dokter, politikus, aktor, dan tokoh militer. Dalam pemerintahan, ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II. Tokoh lain yang turut berperan dalam pemerintahan adalah Mr. Sjafruddin Prawiranegara, yang lahir pada tanggal 28 Februari 1911 dan wafat pada tanggal 15 Februari 1989. Ia merupakan negarawan dan ekonom yang memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia atau PDRI. Pada masa Demokrasi Liberal, ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan dan menjadi Gubernur Bank Indonesia pertama. Dalam catatan kabinet PDRI tahun 1948, tercantum pula nama Indratjahja.

Mr. Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono, yang lahir pada tanggal 10 April 1900 dan wafat pada tanggal 1 Agustus 1986, merupakan salah seorang pelopor kemerdekaan sekaligus pendiri Partai Katolik Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, ia beberapa kali menjabat sebagai menteri. Kasimo dikenal sebagai tokoh yang memandang kegiatan politik sebagai bentuk pengorbanan tanpa pamrih dan menekankan pentingnya berpegang teguh pada prinsip. Ia menjunjung tinggi semboyan salus populi suprema lex, yang berarti keselamatan atau kepentingan rakyat merupakan hukum tertinggi.

Ir. H. Raden Djoeanda Kartawidjaja lahir pada tanggal 14 Januari 1911 dan wafat pada tanggal 7 November 1963. Ia merupakan Perdana Menteri Indonesia ke-10 sekaligus yang terakhir, dengan masa jabatan dari tanggal 9 April 1957 hingga 9 Juli 1959. Setelah itu, ia menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja I. Sementara itu, Ir. Mr. Kanjeng Pangeran Haryo Sadjarwo Djarwonagoro, yang lahir pada tanggal 3 Agustus 1917 dan wafat pada tanggal 6 Mei 1996, pernah menjabat sebagai Menteri Pertanian, Menteri Urusan Agraria, serta anggota DPR dan MPR. Ia juga pernah menjadi Rektor Universitas 17 Agustus di Jakarta. Putrinya, Isyana Sadjarwo, menjadi wakil ketua sementara DPR pada tahun 1982.

Tandiono Manu, yang lahir pada tanggal 28 Juni 1913 dan wafat pada tanggal 30 Oktober 1986, merupakan politikus yang menjabat sebagai Menteri Pertanian dalam Kabinet Natsir pada tahun 1950–1951. Ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Industri dalam Kabinet Halim pada masa Republik Indonesia Serikat. Selain Tandiono Manu, nama Suwarto turut tercantum dalam daftar tokoh yang berkaitan dengan sejarah kepemimpinan pertanian Indonesia. Tokoh berikutnya adalah Mohammad Sardjan, yang lahir pada tanggal 4 Juni 1909 dan wafat pada tanggal 6 Mei 1992. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pertanian dalam Kabinet Wilopo dan Kabinet Burhanuddin Harahap.

Eny Karim lahir pada tanggal 27 Oktober 1910 dan wafat pada tanggal 5 September 1995. Ia dikenal sebagai pejuang dan politikus yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertanian dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo II. Ia juga sempat menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara pada tahun 1963. Sementara itu, Mayor Jenderal TNI (Purn.) Dr. dr. Abdul Azis Saleh, yang lahir pada tanggal 20 September 1914 dan wafat pada tanggal 3 April 2001, merupakan dokter dan politikus yang menjalankan jabatan menteri selama sembilan tahun, sejak Kabinet Djuanda hingga Kabinet Dwikora I. Ia menyelesaikan pendidikan kedokterannya di Geneeskundige Hoogeschool pada tahun 1942 dan dikenal sebagai salah seorang penandatangan Petisi 50. Dalam daftar tokoh pertanian tersebut, tercantum pula nama T. Sukarno.

Drs. Franciscus Xaverius Seda, yang dikenal sebagai Frans Seda, lahir pada tanggal 4 Oktober 1926 dan wafat pada tanggal 31 Desember 2009. Ia merupakan politikus, menteri, tokoh gereja, pengamat politik, dan pengusaha. Dalam pemerintahan, ia pernah menjabat sebagai Menteri Perkebunan dalam Kabinet Kerja IV pada tahun 1963–1964, Menteri Keuangan pada tahun 1966–1968, serta Menteri Perhubungan dalam Kabinet Pembangunan I pada tahun 1968–1973. Adapun Mayor Jenderal TNI (Purn.) Sutjipto, yang lahir pada tahun 1926, merupakan perwira tinggi, politikus, dan akademisi yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertanian pada tahun 1966–1968.

Tojib Hadiwidjaja lahir pada tanggal 12 Mei 1919 dan wafat pada tanggal 12 Desember 2002. Ia menjabat sebagai Menteri Pertanian dalam Kabinet Pembangunan I dan II pada tahun 1968–1978. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Menteri Perkebunan pada tahun 1967–1968, Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan pada tahun 1962–1964, serta Duta Besar Indonesia untuk Luksemburg pada tahun 1965–1966. Kepemimpinan di bidang pertanian kemudian dilanjutkan oleh Prof. Ir. Soedarsono Hadisapoetro dalam Kabinet Pembangunan III. Soedarsono lahir pada tanggal 15 Juli 1921 dan wafat pada tanggal 10 Juni 1988. Ia merupakan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada yang dikukuhkan pada tahun 1970 dan pernah menjadi Ketua Dewan Koperasi Indonesia atau Dekopin.

Ir. Achmad Affandi, yang lahir pada tanggal 27 Oktober 1927 dan wafat pada tanggal 29 Desember 1990, menjabat sebagai Menteri Pertanian dalam Kabinet Pembangunan IV pada tahun 1983–1988. Ia menekankan tiga tugas pokok, yaitu mempertahankan swasembada, meningkatkan devisa, dan memperluas lapangan kerja. Setelah itu, jabatan Menteri Pertanian dipegang oleh Wardojo dalam Kabinet Pembangunan V pada tahun 1988–1993. Wardojo lahir pada tanggal 20 Agustus 1933 dan wafat pada tanggal 27 Juli 2008. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Tanaman Keras dalam Kabinet Pembangunan IV pada tahun 1983–1988. Ia menerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama dan Adipradana serta dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Prof. Dr. Sjarifuddin Baharsjah, M.Sc., yang lahir pada tanggal 16 Mei 1932 dan wafat pada tanggal 15 Januari 2021, merupakan tokoh pertanian dan akademisi Institut Pertanian Bogor. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pertanian serta Ketua Independen Dewan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO. Adapun Prof. Dr. Hj. Justika Baharsjah, yang lahir pada tanggal 7 Mei 1937, merupakan akademisi dan aktivis pertanian yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertanian dalam Kabinet Pembangunan VII serta Menteri Sosial dalam Kabinet Reformasi Pembangunan. Selain mengajar di Institut Pertanian Bogor, ia aktif dalam organisasi profesi pertanian.

Prof. Dr. Ir. Soleh Solahuddin lahir pada tanggal 12 April 1944 dan wafat pada tanggal 17 November 2014. Ia merupakan akademisi bidang pertanian dan politikus yang menjabat sebagai Menteri Pertanian dalam Kabinet Reformasi Pembangunan pada tahun 1998–1999, pada masa pemerintahan Presiden B. J. Habibie. Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai menteri, ia kembali berkiprah sebagai guru besar dan dosen Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Ia juga pernah menjadi Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia atau ICMI wilayah Lampung.

Ir. Mohamad Prakosa, M.Sc., Ph.D., yang lahir pada tanggal 4 Maret 1960 dan wafat pada tanggal 17 Januari 2023, merupakan politikus, akademisi, diplomat, dan mantan birokrat. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan dalam Kabinet Gotong Royong, serta anggota DPR RI selama tiga periode. Pada akhir masa pengabdiannya, ia menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Italia hingga wafat. Tokoh berikutnya adalah Prof. Dr. Bungaran Saragih Garingging, yang lahir pada tanggal 17 April 1945 dan pernah menjabat sebagai Menteri Pertanian dalam Kabinet Gotong Royong. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Institut Pertanian Bogor pada tahun 1971 dan memperoleh gelar doktor di bidang ekonomi dari North Carolina State University, Amerika Serikat, pada tahun 1980. Ia juga dikenal sebagai Ketua Dewan Redaksi Majalah Agrina.

Dr. Ir. Anton Apriyantono, M.S., yang lahir pada tanggal 5 Oktober 1959, menjabat sebagai Menteri Pertanian dalam Kabinet Indonesia Bersatu pada tahun 2004–2009. Ia juga pernah menjadi anggota Komite Inovasi Nasional pada tahun 2010–2014 serta mengajar di Institut Pertanian Bogor sejak tahun 1982 hingga 2011. Selanjutnya, Dr. Ir. H. Suswono, M.M.A., yang lahir pada tanggal 20 April 1959, menjabat sebagai Menteri Pertanian pada tanggal 22 Oktober 2009 hingga 20 Oktober 2014. Sebelumnya, ia menjadi Wakil Ketua Komisi IV DPR RI periode 2004–2009 dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. Ia terpilih melalui Daerah Pemilihan Jawa Tengah IX dan menangani bidang pangan, pertanian, kehutanan, perikanan, serta kelautan.

Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., yang lahir pada tanggal 27 April 1968, merupakan pengusaha yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertanian pada tanggal 27 Oktober 2014 hingga 20 Oktober 2019. Sebelum menjadi menteri, ia memimpin Tiran Group, kelompok usaha yang berkantor pusat di Makassar dan sebagian besar beroperasi di Indonesia Timur. Pada tanggal 25 Oktober 2023, ia kembali diangkat sebagai Menteri Pertanian.

Pada periode berikutnya, Dr. H. Syahrul Yasin Limpo, S.H., M.Si., M.H., menjabat sebagai Menteri Pertanian pada tanggal 23 Oktober 2019 hingga 6 Oktober 2023. Ia lahir pada tanggal 16 Maret 1955 dan sebelumnya menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan pada tanggal 8 April 2008 hingga 8 April 2018. Ia memenangi pemilihan gubernur pada tahun 2007 dan 2013 bersama Agus Arifin Nu’mang. Setelah masa jabatannya sebagai Menteri Pertanian berakhir, tugas tersebut untuk sementara dijalankan oleh H. Arief Prasetyo Adi, S.T., M.T., Ph.D. (h.c.), sebagai Pelaksana Tugas Menteri Pertanian pada tanggal 6–25 Oktober 2023. Arief lahir pada tanggal 27 November 1974 dan dilantik sebagai Kepala Badan Pangan Nasional pertama pada tanggal 21 Februari 2022 oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka. Setelah masa pelaksanaan tugas tersebut, Andi Amran Sulaiman kembali memimpin Kementerian Pertanian.

Selain memuat sejarah kelembagaan dan profil para tokoh, situs Kementerian Pertanian menyediakan akses menuju berbagai layanan dan informasi. Layanan tersebut meliputi Reformasi Birokrasi, Regulasi, Satu Data Pertanian, Perizinan Pertanian, Perpustakaan, serta Kontak Pengaduan.

Sejarah Kemetan